
Tempurung hitam menutupi ruang ini seakan dunia sudah aku gapai. ternyata hanya ruang kecil, setelah aku coba untuk memberanikan diri seperti apakah matahari dan dunia luar??? Ternyata adalah sesosok gumpalan penderitaan yang harus aku jalani dan kesedihan yang harus di tangisi, dan aku ingin kembali ke tempurung kecilku, tapi apa daya arah dan jalannya ternyata sudah berbeda.
Di sini seolah olah hidup dan kebahagianku di ambil dengan paksa, bahkan aku memberinya dengan terpaksa , untuk apa……???? Hanya untuk gumpalan kecil yang membuatku terluka dan tak terobati yang harus kusesalkan atau harus kubanggakan dan kunikmati. Aku coba berjalan keluar dan berkumpul dengan penghuni alam yang begitu terang ini dan sangat besar. Kekejaman kesedihan ketidak adilan iri dengki perbedaan semua aku dengar dari pendengaranku yang belum mampu menerimanya……siapa aku ini kenapa aku harus berada disini hanya untuk melihat orang yang membuatku gelisah dan ingin pergi, tapi pergi kemana aku hanya debu kecil yang lengket di tembok berlumpur.
Aku hanya mendengarkan, membaca merenungi banyak istilah yang ternyata tidak mungkin aku dapatkan dan aku rasakan yang pada akhirnya berujung pada harta kecilku yang selalau menemani kebusukan dan keseharianku dia adalah air mata, tapi kadang air mataku juga mengandung makna yang terkadang berupa kegembiran………aku berani menyebutnya kegembiraan disaat air mataku keluar untuk sesuatu yang membuatku tertawa. Di saat aku tertawa dari kejauhan aku mendengar suaraku tapi bukan suaraku. Aku kira aku sedang termenung tapi setelah kudekati ternyata itu sesosok nyata yang sama denganku….akupun mulai membagi semua kepadanya sedih senang………disaat angin membawa kita bertemu,,, tapi terkadang dan bahkan bisa di bilang sering..angin memisahkan kita lagi….
Kembali aku berjalan sendiri di jalan yang berlumpur dengan menoleh kanan kiri melihat orang-orang yang berbaju rapi dan berteduh di istana yang berkilauan senyum dan kebahagian…sedangkan di luar sana dan tak terlihat ternyata ada aku yang kotor dan tak berbusana.
Aku tak tau kemana aku harus berlingdung???? Apakah ke istana itu tapi kakiku kotor berlumpur pekat. Nampaknya aku harus pergi ke tempat pesta kembang yang dari kejauhan terlihat kerlap kerlip cahayanya menyaingi gemercik nur bintang dan bulan…tapi aku tak berbusana………mungkin sudah seharusnya aku hanya di sini berlindung dan berdetuh di bawah daun tua yang sudah kering dan terjatuh………
Sejenak angin begitu kencang bertiup dan memutar-mutar daun keringku disertai gerimis hujan yang agak membuat badanku basah dan kedinginan, Tuhan malangnya nasibku ingin tempat berlindungpun rasanya sulit sekali aku dapatkan, tapi bagaimana tidak sulit semua sudah ada yang punya seakan-akan sbagai penjagapun aku tak berarti.
Hari kian aku jalani dengan berbagai irisan kalbu yang tak henti-hentinya menjahatiku….sejenak aku berpikir dan beragan andai aku jadi mereka, tapi sesempat aku mencoba untuk jadi mereka. Tapi apa daya tangan tidak sampai maksud hati memeluk gunung mencium sang rembulan . tapi apa yang kudapat setelah aku coba seperti mereka……..hanya usang sahaja.
Kaki gemetar tangan tak mampu mengayun mata hanya terpejam dn ku merebah terlendang dengan desis nafas yang hangat. Hatiku sedikit riang senyumku sudah mulai menampakkan gigi-gigi jagungku ketika kulihat rembulan senja sesempat berkata padaku “aku sengaja keluar mendahului malam hanya untuk meringan kan dan menemani kesedihanmu, sekarang bangunah menarilah walau haus dahaga kamu rasakan”, aku bangun merapatkan kakiku membusungkan dadaku dan mulai menaikkan tangan dan merasakan jemari jemari tanganku yang seakan mau bergerak sendiri.akuoun sungguh tak menyangka tiba-tiba satu persatu binatang mengeluarkan irama merdu yang seakan akan mengiringi tarianku.
Tapi kesenangan itu hanyalah sekejap karena sang malam yang gelap dan tak mau kompromi menyergapku dalam sepinya.aku sendiri..aku dimana…aku lapar…haus…..mana teman ku. Aku duduk diam termenung dan aku ingin pulang
Pulang…..ingin aku pulang memanjat waktu, menyisir dan menepi kembali ke gubuk kecilku wahai tempurung hitamku yang mungkin sekarang sudah rapuh dan terinjak sandal emas.
By:
My Best Friend
Jox's






